๐ŸŒ Language: Indonesia English
  • โ€œMemberikan Manfaat Untuk Masyarakat Luasโ€
  • News Photo

    Yayasan Rawamangun Mendidik: Isu Pendidikan di Media Online

    RAWAMANGUNMENDIDIK.COM, JAKARTA - Direktur Riset Yayasan Rawamangun Mendidik (YRM) Dr Rahmat Edi Iriawan menyoroti Indonesia yang menempatkan pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam pembangunan yang sedang dilakukan. Hal itu sesuai dengan Pasal 31 Ayat 4 UUD 1945, yakni 20 persen APBN harus diperuntukkan untuk bidang pendidikan. Alokasi 20 persen APBN tersebut sudah dijalankan sejak tahun 2009. 

    Rahmat Edi dalam Seminar Pendidikan Nasional di Auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Rabu (26/11/2025), menyebutkan hingga saat ini perdebatan tentang terpenuhinya alokasi 20 persen APBN untuk pendidikan tersebut masih berlangsung karena ada bagian mata anggaran yang terkadang dianggap bukan bagian murni sektor pendidikan.

    Di luar perdebatan tersebut, kata dia, apakah media massa dan masyarakat cukup peduli dengan perkembangan di sektor pendidikan tersebut. Menurutnya, menjadi menarik apakah media massa juga mengangkat isu-isu pendidikan seperti permasalahan di atas atau yang lebih esensinya lagi, apakah sebenarnya besaran 20 persen APBN untuk bidang pendidikan, juga menjadi prioritas proporsi peliputan di pemberitaan media massa.

    "Jika kita menempatkan pendidikan menjadi salah satu hal penting dalam pembangunan kita, seharusnya juga diikuti dengan besarnya fokus dan konsentrasi media massa dalam pemberitaan media massa. Namun, apakah itu semua terlihat di media massa kita?" tutur Rahmat Edi. 

    Selanjutnya dia mengungkapkan YRM melakukan riset mendalam sepanjang tahun 2025, mulai Januari hingga Oktober 2025, terhadap 8 news portal yang ada di Indonesia, serta 1 platform media sosial untuk melihat bagaimana ketertarikan media massa dan masyarakat terhadap bidang pendidikan. 

    Hasilnya, memang mencengangkan, dari 8 news portal yang dipilih berdasarkan pertimbangan banyaknya pembaca dan pilihan pada konten berita, ternyata isu pendidikan yang mereka angkat hanya sebesar 0,0024 persen. "Lebih tepatnya, ada 1.499 artikel tentang pendidikan di 8 portal berita tersebut sepanjang 10  bulan di tahun 2025, yang diperkirakan mencapai 618.000 artikel," ujarnya.

    Menurutnya hal itu suatu jumlah yang sangat kecil karena tidak sampai 0,01 persen dari keseluruhan jumlah artikel yang dimuat di news portal tersebut. Dari jumlah tersebut, isu terkait SDM Pendidikan dan Kurikulum Pendidikan mendapatkan setengah dari jumlah pemberitaan tentang pendidikan tersebut.

    Sementara di media sosial โ€œXโ€ yang dianggap sebagai perbicangan langsung masyarakat terkait dengan pendidikan, selama 10 bulan di tahun 2025 ini terdapat sebanyak 250.731 cuitan atau sekitar 25.000 lebih cuitan per bulan 835 cuitan per hari tentang pendidikan. 

    Jumlah yang menunjukkan adanya perhatian masyarakat yang lumayan banyak. Jika dibedah lagi dari sentimen cuitan tersebut sebanyak 158.472 (63,25 persen) bernada positif, 15.599 (6,25 persen) bernada netral, dan  76.660 (30,5 persen) bernada negatif.

    Dari kedua data yang diambil dari portal berita tersebut dapat digambarkan bahwa media masih amat minim punya agenda setting dalam isu pendidikan. Isu pendidikan terbilang jarang diangkat media massa, sehingga permasalahan pendidikan di Indonesia kurang terangkat menjadi perbicangan di masyarakat. 

    Ia menilai perlu riset yang lebih mendalam, mengapa isu pendidikan dianggap belum terlalu โ€œseksiโ€ diangkat oleh media massa. Termasuk juga perlu riset lanjutan untuk mengetahui bagaimana agar isu pendidikan masih menjadi sesuatu yang menarik diangkat media massa dan dianggap penting masyarakat.

    Sebenarnya dari sisi masyarakat, masih cukup peduli dan memberikan perhatian terhadap bidang pendidikan. Terbukti perbincangan tentang isu pendidikan masih cukup banyak dicuit pengguna โ€œXโ€. Artinya, masyarakat memaknai pendidikan sebagai bagian penting dari sebuah upaya untuk keluar dari kemiskinan dan keterbelakangan baik bagi bangsa maupun perorangan. 

    Meski demikian, sambung Rahmat Edi, harus diakui juga platform media sosial โ€œXโ€ lebih banyak dan kuat digunakan untuk segmen kelompok khalayak tertentu. 

    "Masih perlu riset lanjutan untuk melihat bagaimana perhatian kelompok masyarakat lainnya yang menjadi khalayak di platform media sosial lainnya, di luar โ€œXโ€. Apakah mereka juga menganggap isu pendidikan juga menjadi penting bagi mereka," ujarnya menerangkan.

    Lebih lanjut dia berharap hasil riset YRM ini dapat membuka perhatian dan pandangan semua stake holder pendidikan Indonesia, termasuk Kemenristekdikti, Kemendikdasmen, media massa, dan masyarakat luas untuk lebih banyak memberikan perhatian pada bidang pendidikan sebagai sebuah investasi bagi bangsa Indonesia menuju kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. 

    sumber: inilah.com

    Bagikan Berita ini

    Komentar